Skip to main content

Cerpen Kurnia - Melihat Puspa

Melihat Puspa
Terinspirasi dari Sebuah Cerita

Aku punya teman. Atika namanya. Wajahnya cantik, tubuhnya tinggi semampai, dan kakinya jenjang. Hanya saja matanya buta. Kecelakaan yang menimpanya di usia 12 telah memupus harapannya untuk bisa melihat dunia. Dia duduk di depanku sekarang, meraba-raba buku lalu memasukkannya ke tas. Ah, sebaiknya kurapikan juga tasku.
Atika membopong ranselnya dan mengeluarkan tongkatnya. Baru berjalan beberapa detik, tubuhnya jatuh berdebam di lantai. Aku menoleh, kulihat Bella menghampirinya. Kukira Bella ingin membantunya, tapi dia malah terbahak.
“Kerja bagus, jablai buta. Gimana rasanya lantai?”
Aku membantu Atika berdiri. “Eh, nggak usah diganggu, deh, Bel.” Kataku. Bella tersenyum sinis dan bilang; “Puspa, gua, tuh gak bisa ngeliat orang jatuh, terus nggak bantuin.” Bella menyindir. Aku jadi sebal. “OK, Bell, lu punya mata, lu bisa ngeliat, terus kenapa?! Nggak usah sombong, deh.!”
Tapi Atika menarik lenganku. “Udah, ah, Nin. Kita pulang, aja.” Bisiknya. Aku mengerti. Maka kita berdua keluar dari kelas.
###
“Tik, kalo lu bisa ngeliat, apa yang mau lu liat?” Tanyaku. Kita berdua duduk di atap rumahku menatap langit sore yang merah. “Mmm... apa, ya?” Dia berpikir. Tangannya kemudian mencoba menyentuh wajahku. Aku membantunya, “...gua mau ngeliat lu.” Katanya. “Gua mau ngeliat dunia kayak oranglain.”
“Gua tau.” Kataku. “Ahh, Puspa.” Atika memelukku erat. Dan ketika itu aku tau, melihat adalah segalanya bagi Atika.
Dua minggu kemudian aku mendapat telepon dari Atika. Nada suaranya begitu ceria dan tinggi. Dia mendapat donor dan akan dioprasi bulan Juni. Ah, aku tahu ini akan terjadi.
Seminggu sebelum operasi kami makan ayam bakar di depan rumah Atika. “Hihihihi, waktu mamake bilang gua mau dioprasi sumpah gua mau pingsan!” Atika tersenyum begitu lebar. Aku belum pernah, kuulangi, belum pernah melihatnya sebahagia itu. Maka aku ikut tersenyum. “Atika...” ucapku lirih.
“Kenapa?”
“Kalo lu bisa ngeliat lagi lu mau tetep jadi temen gua, kan?” Kataku penuh ragu. “Ya iyalah! Emang lu sejelek apa, sih?” Katanya. Aku menyunggingkan senyum. “Dian Sastro kalah.” Atika menonjok bahuku. “Mimpi.”
Aku tak melihatnya sejak itu. Dan baru berniat menjenguknya seminggu paska operasi. Aku masih ingat dinginnya bangku ruang tunggu. Setidaknya sudah dua jam aku duduk di situ. Aku menoleh begitu mendengar pintu di buka. “Puspa!” Suara Atika memekik telingaku. Dia berjelan keluar. Masih dengan baju rumah sakit. Atika menghampiriku.
Aku mengadahkan tanganku. Ingin memeluknya. Tapi tak kurasakan balasan sedikit pun. “Atika?”
“Puspa... lu buta?”
###
Aku tak tahu apa yang terjadi kemudian. Yang kuingat aku tak pernah mendengar Atika lagi. Entah, dia menjauhkan dirinya dariku. Aku kira dia akan menerimaku apa adanya. Aku salah besar. Dia tak mau menerimaku yang buta. Sama sekali.
Aku menghela napas berat, kemudian meraba tembok, sebelum aku mendengar sesuatu. Suara Atika, aku baru saja ingin menghampirinya ketika ia bilang; “ih, jijik banget gua sama Puspa. Tau-taunya buta!” Begitu padanya. Atika sepertinya tak sadar aku di belakangnya. Aku tak percaya. Mataku mulai basah dan bibirku bergetar. Dan sejak itu aku tahu, aku tak punya alasan lagi untuk ada di sini.
###
Awan begitu hitam dan angin menerpa kencang. Atika berjalan lambat, keluar dari pemakaman Puspa hari itu. Seakan langit tau perasaannya, gerimis mulai jatuh membasahkan tanah. Atika nampak begitu anggun dengan gaun pendek dan kacamata hitam yang menutupi bengkak matanya. Dia tak tahu apa yang ia mau lakukan. Tubuhnya begitu lunglai bahkan hanya untuk berjalan.
Atika merasakan tepukan pelan di bahunya dan dia menoleh ke belakang. Ibunya Puspa, wanita paruh baya yang begitu tangguh. “Puspa minta tante ngasih ini ke kamu.” Katanya seraya mengeluarkan secarik notes kecil. “Makasih.” Atika menerimanya.
Mata mereka berdua bertemu lama. Sebelum akhirnya Atika membalikkan badannya kembali dan berjalan. Perlahan dia buka carikan kertas itu.
“Atika, jaga baik-baik mata gua.”
TAMAT.

Comments

  1. ini terinspirasi dari cerita anak yang durhaka sama ibunya itu ya? yang ibunya matanya cuman satu tapi ternyata mata yang satu lagi itu buat anaknya dan anaknya baru tau setelah ibunya meninggal?

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Daftar Penerbit yang Menerima Naskah Melalui E-Mail

Bagi para penulis muda, salah satu proses krusial supaya tulisan kita bisa diterbitin dan kita berkemungkinan jadi kaya raya bergelimpangan harta adalah mengirimkan naskah ke penerbit. Sayangnya, cuma sedikit penerbit yang mau nerima naskah lewat surel. Hal ini karena para editor lebih mudah nyortir dan baca naskah kita dalam bentuk padat. Bagi kalian yang ngerasa repot harus beli tinta, nge-print-out naskah ratusan halaman, ngejilid, masukin ke amplop, terus kirim lewat kantor pos, belum lagi ngorbanin pohon-pohon buat dijadiin kertas (ea) ini beberapa penerbit yang bersedia nerima naskah lewat e-mail;

Bentang Pustaka Bentang lumayan terkenal nih, penerbit ini kalo nggak salah nerbitin bukunya Dan Brown kayak Da Vinci Code sama Angels and Demons. Kalo salah, mohon maaf, ye. Mereka juga nerima naskah lewat surel. Ada dua kategori, Bentang Pustaka buat naskah umum/dewasa, dan Bentang Belia buat naskah anak/remaja. Ketentuan-ketentuannya bisa dibaca di sini; http://pustakabentang.blogspot.…

Review: Goeboek Bamboe

Goeboek Bambu is a nice place, one that I would visit again, and one that I would recommend to my friends. I had luch there with my family last Saturday and I can say that I had a pretty good time. It is located in Jl. Mampang Sawangan No. 12A, and its phone number is (021)77219230. First of all, the price is quite reasonable. There is no such thing as Rp.12.000,- mineral water or Rp.6000,- rice. Furthermore, my parents classified it as "average", and as a college student who is still pretty much living off of his parents, I would say so, too. Second, the food here is quite tasty. Speaking of which, here are some that we ordered:

By the way, eventhough each member of my family picked just one food and one drink, I still got to taste all of them since I told them it was for homework. I chose ayam mentega and avocado juice myself. They are pretty good. The chicken is nice and the avocado has the perfect density. It is not too soft nor too thick. The seafood fried rice is averag…

Stereotypes

Pernah satu pagi gua masuk ke sekolah, naruh tas terus gabung ngobrol sama temen-temen gua. Ada rumor yang bilang kalo Ahmad Dhani itu seorang Yahudi. Mereka nunjukkin berbagai 'bukti' kayak lambang panggung, atribut dan segala macamnya. Gua duduk dan mikir, 'terus kenapa?' ini masalahnya; gua nggak ngerti kenapa itu jadi masalah. Kalo Ahmad Dhani itu Yahudi, terus sekali lagi, secara harfiah, kenapa? Dia nggak kentut di depan orang lansia karena nikmatin ekspresi mereka waktu menderita, ngerampok bank bareng Jesse Eisenberg atau ngelakuin sesuatu yang ngerugiin orang lain. Gua nggak bilang kalo rumor tentang dia sebagai Yahudi itu bener, tapi selama dia nggak nyakitin orang lain, kenapa itu jadi masalah?
Apa semua pria bersorban make rompi bom waktu di balik gamis mereka? Apa semua orang kulit hitam nodongin pistol dan jualan kokain? Apa semua orang Jerman muja-muja Hitler? Nggak. Gua muslim, dan gua benci waktu Islam diasosiasikan sama terorisme. Terus kenapa ngelakui…