Saturday, May 15, 2010

Cerpen Kurnia - Melihat Puspa

Melihat Puspa
Terinspirasi dari Sebuah Cerita

Aku punya teman. Atika namanya. Wajahnya cantik, tubuhnya tinggi semampai, dan kakinya jenjang. Hanya saja matanya buta. Kecelakaan yang menimpanya di usia 12 telah memupus harapannya untuk bisa melihat dunia. Dia duduk di depanku sekarang, meraba-raba buku lalu memasukkannya ke tas. Ah, sebaiknya kurapikan juga tasku.
Atika membopong ranselnya dan mengeluarkan tongkatnya. Baru berjalan beberapa detik, tubuhnya jatuh berdebam di lantai. Aku menoleh, kulihat Bella menghampirinya. Kukira Bella ingin membantunya, tapi dia malah terbahak.
“Kerja bagus, jablai buta. Gimana rasanya lantai?”
Aku membantu Atika berdiri. “Eh, nggak usah diganggu, deh, Bel.” Kataku. Bella tersenyum sinis dan bilang; “Puspa, gua, tuh gak bisa ngeliat orang jatuh, terus nggak bantuin.” Bella menyindir. Aku jadi sebal. “OK, Bell, lu punya mata, lu bisa ngeliat, terus kenapa?! Nggak usah sombong, deh.!”
Tapi Atika menarik lenganku. “Udah, ah, Nin. Kita pulang, aja.” Bisiknya. Aku mengerti. Maka kita berdua keluar dari kelas.
###
“Tik, kalo lu bisa ngeliat, apa yang mau lu liat?” Tanyaku. Kita berdua duduk di atap rumahku menatap langit sore yang merah. “Mmm... apa, ya?” Dia berpikir. Tangannya kemudian mencoba menyentuh wajahku. Aku membantunya, “...gua mau ngeliat lu.” Katanya. “Gua mau ngeliat dunia kayak oranglain.”
“Gua tau.” Kataku. “Ahh, Puspa.” Atika memelukku erat. Dan ketika itu aku tau, melihat adalah segalanya bagi Atika.
Dua minggu kemudian aku mendapat telepon dari Atika. Nada suaranya begitu ceria dan tinggi. Dia mendapat donor dan akan dioprasi bulan Juni. Ah, aku tahu ini akan terjadi.
Seminggu sebelum operasi kami makan ayam bakar di depan rumah Atika. “Hihihihi, waktu mamake bilang gua mau dioprasi sumpah gua mau pingsan!” Atika tersenyum begitu lebar. Aku belum pernah, kuulangi, belum pernah melihatnya sebahagia itu. Maka aku ikut tersenyum. “Atika...” ucapku lirih.
“Kenapa?”
“Kalo lu bisa ngeliat lagi lu mau tetep jadi temen gua, kan?” Kataku penuh ragu. “Ya iyalah! Emang lu sejelek apa, sih?” Katanya. Aku menyunggingkan senyum. “Dian Sastro kalah.” Atika menonjok bahuku. “Mimpi.”
Aku tak melihatnya sejak itu. Dan baru berniat menjenguknya seminggu paska operasi. Aku masih ingat dinginnya bangku ruang tunggu. Setidaknya sudah dua jam aku duduk di situ. Aku menoleh begitu mendengar pintu di buka. “Puspa!” Suara Atika memekik telingaku. Dia berjelan keluar. Masih dengan baju rumah sakit. Atika menghampiriku.
Aku mengadahkan tanganku. Ingin memeluknya. Tapi tak kurasakan balasan sedikit pun. “Atika?”
“Puspa... lu buta?”
###
Aku tak tahu apa yang terjadi kemudian. Yang kuingat aku tak pernah mendengar Atika lagi. Entah, dia menjauhkan dirinya dariku. Aku kira dia akan menerimaku apa adanya. Aku salah besar. Dia tak mau menerimaku yang buta. Sama sekali.
Aku menghela napas berat, kemudian meraba tembok, sebelum aku mendengar sesuatu. Suara Atika, aku baru saja ingin menghampirinya ketika ia bilang; “ih, jijik banget gua sama Puspa. Tau-taunya buta!” Begitu padanya. Atika sepertinya tak sadar aku di belakangnya. Aku tak percaya. Mataku mulai basah dan bibirku bergetar. Dan sejak itu aku tahu, aku tak punya alasan lagi untuk ada di sini.
###
Awan begitu hitam dan angin menerpa kencang. Atika berjalan lambat, keluar dari pemakaman Puspa hari itu. Seakan langit tau perasaannya, gerimis mulai jatuh membasahkan tanah. Atika nampak begitu anggun dengan gaun pendek dan kacamata hitam yang menutupi bengkak matanya. Dia tak tahu apa yang ia mau lakukan. Tubuhnya begitu lunglai bahkan hanya untuk berjalan.
Atika merasakan tepukan pelan di bahunya dan dia menoleh ke belakang. Ibunya Puspa, wanita paruh baya yang begitu tangguh. “Puspa minta tante ngasih ini ke kamu.” Katanya seraya mengeluarkan secarik notes kecil. “Makasih.” Atika menerimanya.
Mata mereka berdua bertemu lama. Sebelum akhirnya Atika membalikkan badannya kembali dan berjalan. Perlahan dia buka carikan kertas itu.
“Atika, jaga baik-baik mata gua.”
TAMAT.

1 comment:

  1. ini terinspirasi dari cerita anak yang durhaka sama ibunya itu ya? yang ibunya matanya cuman satu tapi ternyata mata yang satu lagi itu buat anaknya dan anaknya baru tau setelah ibunya meninggal?

    ReplyDelete