Skip to main content

Kertas Putih

Gua takut sama masa depan. Gua belum siap. Gua belum siap jadi orang dewasa. Gua nggak ngerti gimana orang lain ngelaluin ini. Apa gua terlalu banyak mikir? Jelas banget nggak soalnya gua dapet nilai jelek di banyak pelajaran. Jadi apa yang salah sama gua? Kenapa orang lain kayaknya gampang banget ngelewatin masa ini? Masa yang orang lain labelin 'transisi' sedangkan gua 'neraka'.

Gua nggak mau ngerti banyak hal. Gua nggak minta ngerti banyak hal. Gua suka pikiran naif gua. Gua suka pendapat-pendapat polos gua. Ngeharepin yang terbaik dari semua orang. Berpendapat nggak ada satu pun manusia yang punya niatan jahat. Tapi semakin ke sini, semuanya malahan semakin bertolak belakang, dan gamblang.

Kenapa ada anak yang pengen banget dipandang baik sama guru?
Kenapa kita harus ngejelekin orang lain supaya dianggep lucu sama orang-orang?
Kenapa kita harus pura-pura kalo hal-hal yang di luar jangkauan kita itu sesuatu yang murah?
Kenapa gua egois?
Kenapa pikiran tentang orang lain jarang hadir di otak gua?
Dan kenapa kalau pun ada yang muncul, itu pikiran tentang orang yang gua tertarikin ('tertarikin' itu kata, kan?)?

Iya. Gua terlalu cinta sama diri gua sendiri. Banyak orang lain yang lebih susah dari gua. Dan gua selalu gagal buat nyadarin itu. Gua selalu nanya kenapa gua yang dikasih hukuman. Bukan orang-orang berkerah di TV yang dibilang suka korupsi atau orang-orang bodoh yang mikir mereka bisa lolos dari nyekek leher orang lain dengan ngalungin tali rafia di lehernya.

Dan kenapa mereka bodoh? Orang-orang itu. Gua tau gua bukan lampu paling terang di tanning bed, malahan yang paling redup mungkin nginget gua sering banget remedial pas ulangan, tapi gua tau yang mana yang bener, yang mana yang salah. Mereka nggak. Dan sekali lagi gua minta maaf karena terlalu narsistis ('narsistis' juga kata, kan?). Cuma aja gua kenal orang dan dia pinter banget--ecara teori. Dia selalu dapet nilai bagus, dia rajin, tapi nggak tau kenapa, dia nggak ngerti hal-hal yang paling sederhana. Yang dasar. Seolah-olah dia tinggal di era 30-an atau beberapa puluh tahun sebelumnya. Dan buruknya, pikirannya tertutup. Gua nggak tau caranya nembus tembok bangunan dia. Di akhir, gua cuma bisa kasian. Dan harus gua ingetin kalo ini semua cuma pendapat gua.

Gua rasa gua cuma harus nerima kalo tiap orang punya pikiran dengan jalur yang beda. Bahkan kalo jalan pikiran mereka malah terbelakang dan berdevolusi ('devolusi' itu lawan 'evolusi', kan?). Dan ini juga nggak ngebantah fakta kalo nggak ada pikiran dari orang tertentu yang 'pasti bener'. Semuanya relatif. Termasuk pikiran gua.

Dan gua rindu nggak punya noda.

Comments

Popular posts from this blog

Daftar Penerbit yang Menerima Naskah Melalui E-Mail

Bagi para penulis muda, salah satu proses krusial supaya tulisan kita bisa diterbitin dan kita berkemungkinan jadi kaya raya bergelimpangan harta adalah mengirimkan naskah ke penerbit. Sayangnya, cuma sedikit penerbit yang mau nerima naskah lewat surel. Hal ini karena para editor lebih mudah nyortir dan baca naskah kita dalam bentuk padat. Bagi kalian yang ngerasa repot harus beli tinta, nge-print-out naskah ratusan halaman, ngejilid, masukin ke amplop, terus kirim lewat kantor pos, belum lagi ngorbanin pohon-pohon buat dijadiin kertas (ea) ini beberapa penerbit yang bersedia nerima naskah lewat e-mail;

Bentang Pustaka Bentang lumayan terkenal nih, penerbit ini kalo nggak salah nerbitin bukunya Dan Brown kayak Da Vinci Code sama Angels and Demons. Kalo salah, mohon maaf, ye. Mereka juga nerima naskah lewat surel. Ada dua kategori, Bentang Pustaka buat naskah umum/dewasa, dan Bentang Belia buat naskah anak/remaja. Ketentuan-ketentuannya bisa dibaca di sini; http://pustakabentang.blogspot.…

Review: Goeboek Bamboe

Goeboek Bambu is a nice place, one that I would visit again, and one that I would recommend to my friends. I had luch there with my family last Saturday and I can say that I had a pretty good time. It is located in Jl. Mampang Sawangan No. 12A, and its phone number is (021)77219230. First of all, the price is quite reasonable. There is no such thing as Rp.12.000,- mineral water or Rp.6000,- rice. Furthermore, my parents classified it as "average", and as a college student who is still pretty much living off of his parents, I would say so, too. Second, the food here is quite tasty. Speaking of which, here are some that we ordered:

By the way, eventhough each member of my family picked just one food and one drink, I still got to taste all of them since I told them it was for homework. I chose ayam mentega and avocado juice myself. They are pretty good. The chicken is nice and the avocado has the perfect density. It is not too soft nor too thick. The seafood fried rice is averag…

Who Am I? I'm Spider-Man!

Gua natap layar laptop yang nampilin episode premiere dari season dua New Girl, bingung mau nulis atau nggak. Tapi gua butuh buat ngeluarin semua ini ke permukaan, gua pengen ngerasain sedikit sense dari kelegaan walaupun cuma sebentar dan dalam kuantitas minim doang.
Gua ngerasa kosong. Blank.
Gua nggak akan nulis gua bangun di pagi hari dan natap cermin terus nggak ngenalin siapa yang ada di pantulannya karena bukan itu yang terjadi, tapi gua emang ngalamin sesuatu yang gua sebut krisis identitas. Gua nggak tau gua siapa. Yes, gua adalah anak lembek umur 17 yang kecanduan nonton film, tapi bukan itu yang gua maksud. Semua hal itu cuma bagian superficial-nya aja. Sesuatu yang jelas di permukaan, yang semua orang lain tau. Tapi ‘gua’ dalam arti sebenarnya, itu issue yang masih belum bisa gua selesain. Kalo gua ngelamar kerja dan dikasih formulir yang bertuliskan ‘jelasin diri kamu sendiri,’ nggak bakalan ada kata yang berhasil gua toreh selain ‘ganteng’ atau ‘Han Solo.’
Dan gua rasa inil…