Barbie: Privilese Pemanfaatan Boneka sebagai Penyampaian Ide

Barbie: Privilese Pemanfaatan Boneka sebagai Penyampaian Ideologi

Oleh Kurnia Alexander


TULISAN INI MENGANDUNG SPOILER

Saya merasa diskusi soal Barbie, film terbarunya Greta Gerwig, akhir-akhir ini sangatlah menarik. Ada yang suka banget, ada yang suka tapi merasa kurang, ada yang kecewa, bahkan ada yang benci (true story, ini salah satu teman saya). Spektrumnya ter-cover semua. Saya, personally, masuk ke kelompok yang suka banget. Karena seberagam ini, saya jadi ingin menelaah lebih jauh soal kritik-kritiknya--bukan untuk dibantah, tapi untuk bikin pengalaman saya lebih kaya saja. After all, semua orang menonton dengan membawa latar belakang mereka masing-masing, jadi pengalamannya tentu akan berbeda-beda dan tidak membuat pendapat satu lebih valid dari yang lain.

Beberapa kritik yang saya temui soal Barbie menyebut ia sebagai film yang oversimplify issue yang dia bawa, either half atau overbaked, preachy, terlalu anti-men (yang ini saya lebih suka abaikan sih), and one of my good friends wonder kenapa konklusinya adalah Barbie menjadi manusia. I have my own critiques juga (I mean, no movie is perfect), but they're mostly about other things, so I find it interesting when most of those critiques are pretty similar. Mungkin memang sayanya yang bias dan overlook flaw-flaw tersebut? Bisa jadi. After all, Lady Bird might be my #1 movie of all time.

Bagi saya, film Barbie--dan otomatis Greta Gerwig--cukup jenius.

Dari karya-karya sebelumnya, kita bisa menyimpulkan bahwa Gerwig adalah seorang yang--tanpa diragukan lagi--feminis. Tentu, dia lebih dari itu juga, tapi untuk konteks film ini, mari kita bahas karakteristik itu dulu. Sebagai seorang feminis, Gerwig memiliki ideologinya, dan sebagai seorang seniman, ideologi tersebut akan dia cerminkan dalam karyanya. Ketika membahas feminisme, sebuah gerakan, kita juga membahas politik gender, dan itu adalah hal yang sangat rumit. After all, ia mungkin sudah ada dari kebudayaan pertama kali ada, maka untuk merangkumnya dalam film berdurasi 114 menit adalah tugas yang, jelas, sangatlah sulit--which is what Gerwig is trying to do here.

Ya, Barbie seambisius itu. Ada banyak cara yang lebih mudah untuk menunjukkan ideologi diri (author) terhadap topik luas yang sedang diangkatnya--apalagi ketika kita membicarakan film dan keterbatasannya. Misal, author bisa membahas sebagian saja: entah men-set-nya dalam ruang lingkup atau teritori tertentu saja sebagaimana Battle of Sexes membicarakan feminisme dalam olahraga atau Mulan dalam kebudayaan Cina; atau menyelipkannya secara tersirat alih-alih tersurat sebagaimana feminisme adalah undertone alih-alih overtone dari film horor tentang anak SMA succubus, Jennifer's Body. Barbie, on the other hand, goes BIG. Dia membicarakan politik gender dalam skala semesta--dua, bahkan (dunia nyata dan Barbieland)--dan tidak ada sirat-menyirat sama sekali dalam penyampaiannya.

Saya paham sekali kenapa orang-orang bisa mengatakan film ini oversimplified atau preachy karena dengan penyampaian tersebut, clunkiness tidak bisa dihindari. Dialog-dialognya bisa sangat in-your-face, borderline melanggar aturan storytelling: show, don't tell. Bahkan, filmnya menawarkan solusi untuk patriarki--yang di luar konteks, at worst, bisa terkesan menggampangkan. Nah, di sinilah kejeniusan Barbie (dan Gerwig) hadir, bagi saya: Gerwig memutuskan untuk menyampaikan ideologinya dalam sebuah film tentang boneka.

Gerwig (menurut saya) sadar betul bahwa politik gender adalah permasalahan yang kompleks dan belum memiliki jawaban konkrit--apalagi penyelesaian. Gerwig pun menyuarakan itu dalam adegan di alam baka (atau entah namanya apa, bentuknya seperti ruang hampa) di mana Ruth Handler (pencipta Barbie) menyampaikan betapa rumitnya kehidupan manusia kepada Barbie di akhir film. Nah, kuncinya ada di sini: itu adalah kehidupan manusia.

Di Barbieland, semuanya sempurna dan maka dari itu, sederhana. Barbie terbangun dengan penampilan sempurna, lalu mandi, sarapan, pergi ke pantai, dan menjalani kesehariannya dengan sempurna juga. Politik gender mungkin sudah hadir di Barbieland, namun ia berdimensi satu, tidak bernuansa atau berlapis seperti di dunia nyata. Semuanya biner: para Barbie menguasai Barbieland, Ken tidak penting, dan karena ini, masalah dunia sudah selesai. Plot baru berjalan ketika Barbie mulai kehilangan pegangannya terhadap realita tersebut--ketika keutuhan dirinya terkoneksi dengan MANUSIA. Sekali lagi, Gerwig membuat distinction yang jelas di sini: kehidupan manusia rumit, kehidupan Barbie sederhana--dan dia memanfaatkan distinction tersebut.

Gerwig mengeluarkan Barbie dan Ken, sepasang boneka, ke dunia nyata lalu mengembalikan mereka ke Barbieland dengan membawa pulang permasalahan manusia. Dengan melakukan ini, dia mengizinkan dirinya untuk membahas permasalahan-permasalahan tersebut secara sederhana juga. Dia tidak mengatakan permasalahannya mudah, dia mengatakan Barbieland-nya yang mudah. Maka, ketika Ken membawa oleh-oleh patriarki ke Barbieland, menurut saya masuk akal ketika para Barbie langsung menelannya bulat-bulat karena mereka tidak berdimensi. Sekali lagi, mereka boneka. Kenapa Barbie utama kita tidak terpengaruh? Sesuai dengan penjelasan filmnya: karena dia sudah terekspos dunia nyata dan semakin manusiawi.

Tidak tanggung-tanggung, Gerwig pun menawarkan solusi karena meskipun permasalahan politik gender sangatlah kompleks, sebagai seseorang yang beridealisme, Gerwig tentunya memiliki bayangan akan situasi ideal yang sesuai dengan ideologinya. Maka, di Barbieland, para Barbie bisa sembuh dari doktrinasi patriarki hanya dengan mendengar monolog berapi-api America Ferrera tentang betapa sulitnya menjadi wanita, dan para Ken bisa menjadi sosok yang lebih baik ketika mereka menyadari bahwa mereka hanya menggunakan patriarki sebagai substitusi untuk penemuan jati diri. Perlu dicatat juga, semua solusi ini terjadi di Barbieland, bukan dunia nyata yang hingga akhir film masih sama rumitnya seperti sebelumnya.

Sekali lagi, saya tidak tahu ini bias atau tidak, tapi apa yang kebanyakan orang keluhkan soal Barbie, saya lihat sebagai sesuatu yang jenius: (atau mungkin malah kecurangan Gerwig, ya? Haha) dia menggunakan keterbatasan karakternya yang bukan manusia untuk membicarakan hal-hal yang kompleks secara sederhana dan mudah dicerna. Jika saya memiliki kritik, itu lebih berkisar seputar representasi pihak korporat Mattel-nya sendiri. Gerwig sempat mengolok mereka lewat penampilan Will Ferrell, tapi di akhir, saya bahkan tidak ingat apa konklusi yang bisa ditarik dari mereka. Ah, itu obrolan untuk lain hari.

Pada akhirnya, bagi saya, Barbie bahkan melampaui semua topik-topik tersebut. Barbie, seperti langsung dari mulut Gerwig, adalah tentang apa artinya menjadi manusia. Bahkan ketika sudah melalui segala kerumitannya, Barbie ingin menjadi manusia karena menjadi manusia berarti memiliki kemampuan untuk memberikan arti pada semua hal--which is what we're doing now with this movie. ❤️

Komentar

Postingan Populer